Dalam Setiap Kesulitan Selalu ada Kemudahan (Alam Nasyrah 5 dan 6)
Segala sesuatu berjalan tidak semestinya.
Hujan deras seharian gak berenti dari kemarin, hari itu tangal 20 Juni aku begitu tegang melihat langit dengan curahan hujan yang deras dan tidak pernah berhenti ditambah mendung gelap sekali. Di pesawat radio di ruang distribusi terdengar dari Ranting Sinjai bagaimana parahnya bajir di Sinjai mulai dari tiang hilang hanyut kebawa air sape banyaknya SR (sambungan rumah) yang ikut hanyut terbawa air. Temen-temen dari pemeliharaan dan Operasi Distribusi Cabang yang dikirim untuk membantu temen-temen Ranting Sinjai untuk mengatasi gangguan akibat banjir pada kembali mereka tidak menemukan jalan untuk mencapai Kota sinjai karena semua akses ke kota sinjai terputus. Di pesawat terdengar ranting Bantaeng juga melaporkan kondisi serupa, dan parahnya jembatan di bantaeng terputus…. akses bulukumba ke makassar putus, pikirankku tambah gak karuan sekarang.
Aku kembali ke ruang akuntansi sambil berfikir bagaimana aku bisa pulang….
Tanggal 22 Juni adalah hari Ulang Tahun Istriku dan aku sudah janji untuk bisa didekat istriku pas istriku ulang Tahun, tiket memang belum aku bayar tapi dah jadi tinggal di ambil di bandara pesawatku tgl 21 Juni jam 4 sore. Pikiran tambah gak karuan ngeliat hujan belum berhenti…
Aku liat jam 4 sore hujan sedikit reda, aku Cuma bisa berpikir bagai mana besok aku putusin untuk pulang dulu kerumah…. semalaman aku tidak bisa tidur cuma berfikir bagaimanapun aku harus ke Makassar sebelum lanjut ke Surabaya.
Alarm HP ku bunyi kenceng bgt, dah jam 5 lewat 10 aku ambil air wudhu dan sholat subuh, aku putusin untuk nekat ke makassar pagi ini. Aku Cuma berpikir apa ada mobil yg mau berangkat ke Makassar kalo kondisi seperti ini aku masih inget sore kemarin waktu hujan deres2nya tidak ada satu pun mobil plat kuning yang lewat, aku liat langit masih gelap bgt gerimis masih turun. Aku putusin untuk mandi dan segera berangkat ke Makassar. Tidak lupa aku SMS Taufik (Makasih banyak Ces..) minta di antar ke pangkalan Mobil ke Makassar.
Hari itu aku Cuma berdoa…
“Ya Allah Mudahkanlah Hamba untuk bisa ketemu istri hamba, Melihat Janin di perut Istri hamba”
Taufik datang dan aku langsung di Anter ke Pangkalan Mobil di perjalanan taufik cerita banyaknya korban yang di beritakan meningga dunia, tapi pangkalan Kosong tidak ada satu pun mobil yang mau ke Makassar.
Tidak begitu lama ada satu mobil dateng dengan hanya dengan satu penumpang, tanpa pikir panjang aku langsung naik, diatas mobil sopir cerita bagaimana dasyatnya banjir bandang semalam dia malas sebenarnya harus ke makassar kembali tapi dia harus bawa pulang mobilnya ke Makassar. (alhamdulilah ada juga yang ngangkut aku ke makassar)
Di Sepanjang perjalanan bekas Banjir masih Nampak jelas mulai sawah yang kerendem air, bangunan roboh, pagar2 rumah yang roboh, jalanan yang penuh lumpur sampai jembatan yang tidak bisa di lewati karena terseret air sebagian pondasinya di bantaeng, kami harus berputar lumayan jauh untuk mencari jembataan alternatif, akhirnya bisa juga ketemu jembatan yang sangat kecil hanya satu mobil yang bisa lewat itu juga harus satu2 yang bisa melewatinya.
Sepanjang Perjalanan aku hanya bisa Istighfar, dan baca Salawat Nabi. Melihat banyaknya kerusakan akibat Banjir ini menyadarkanku betapa kecilnya diri ini.
Sepanjang Perjalanan banyak SMS dan telp dari keluargaku dan teman-teman menanyakan khabar, nampaknya berita banjir dah menyebar, TV juga sudah menyiarkan liputannya.
Jam setengah sepuluh pagi aku sampe makassar lega rasanya, aku sempetin ambil ATM untuk bayar tiket nanti. Aku sempetin jg mampir untuk sarapan, dan mampir kerumah ibu Puji di Makassar ( Orang tua ku di Makassar) gak terasa aku ketiduran ampe jam satu-an siang. akhirnya aku naik taxi ke bandara, alhamdulilah semua lancar sampai aku bisa ketemu istriku di surabaya.
Di surabaya Aku baru melihat kembali berita di TV betapa Luar Biasanya Banjir bandang di Sinjai-Bulukumba-Bantaeng yang menewaskan ratusan Jiwa dan harta benda yang tidak terhitung, sekali lagi aku bersyukur bisa selamat dan masih diberi kesempatan untuk bisa berkumpul ama keluargaku di surabaya.
Kadang Allah memang mengirimkan sedikit ujian buat kita agar kita mengingat-Nya, karena Nikmat yang telah Dia berikan kepada kita tidak bisa membuat kita untuk mengingat-Nya, kadang kita hanya melihat betapa beratnya ujian ini tetapi tidak perna berpikir seberapa besar nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita.
Allah sudah menunjukkan di kondisi yang sulit pun aku masih di beri kemudahan oleh Nya untuk bisa bertemu dengan istri dan keluargaku di Surabaya, Rumah kos dan kantorku pundi Bulukumba bisa selamat dan luput dari Banjir…….
Buat temen-temenku yang udah sms, nge-email, dan telp makasih banyak untuk perhatiannya. Tri gpp dah di Bulukumba lagi dan bekerja kembali.
Semoga musibah ini cepet berlalu……
TLA